KOROSIF I
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Korosifhttps://uchilusiamagda.blogspot.com/2013/07/klasifikasi-bahan-kimia-bahan-kimia_9.html
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) <--> Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e <--> 2H2O(l)
atau
O2(g) + 2H2O(l) + 4e <--> 4OH-(aq)
Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu.
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawabesi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektrode lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.
Teknik pencegahan korosi besi
Korosi pada besi menimbulkan banyak kerugian, karena barang-barang atau bangunan yang menggunakan besi menjadi tidak awet.
Korosi pada besi dapat dicegah dengan membuat besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), namun proses ini membutuhkan biaya yang mahal, sehingga tidak sesuai dengan kebanyakan pengunaan besi
Cara pencegahan korosi pada besi dapat dilakukan sebagai berikut:
Pengecatan
Fungsi pengecatan adalah untuk melindungi besi kontak dengan air dan udara. Cat yang mengandung timbal dan seng akan lebih melindungi besi terhadap korosi. Pengecatan harus sempurna karena jika terdapat bagian yang tidak tertutup oleh cat, maka besi di bawah cat akan terkorosi. Pagar bangunan dan jembatan biasanya dilindungi dari korosi dengan pengecatan.
Dibalut plastik
Plastik mencegah besi kontak dengan air dan udara. Peralatan rumah tangga biasanya dibalut plastik untuk menghindari korosi.
Pelapisan dengan krom (Cromium plating)
Krom memberi lapisan pelindung, sehingga besi yang dikrom akan menjadi mengkilap. Cromium plating dilakukan dengan proses elektrolisis. Krom dapat memberikan perlindungan meskipun lapisan krom tersebut ada yang rusak. Cara ini umumnya dilakukan pada kendaraan bermotor, misalnya bumper mobil.
Pelapisan dengan timah (Tin plating )
Timah termasuk logam yang tahan karat. Kaleng kemasan dari besi umumnya dilapisi dengan timah. Proses pelapisan dilakukan secara elektrolisis atau elektroplating. Lapisan timah akan melindungi besi selama lapisan itu masih utuh. Apabila terdapat goresan, maka timah justru mempercepat proses korosi karena potensial elektrode besi lebih positif dari timah.
Pelapisan dengan seng (Galvanisasi)
Seng dapat melindungi besi meskipun lapisannya ada yang rusak. Hal ini karena potensial elektrode besi lebih negatif daripada seng, maka besi yang kontak dengan seng akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode. Seng akan mengalami oksidasi sehingga besi akan lebih awet.
Pengorbanan anode (Sacrificial Anode)
Perbaikan pipa bawah tanah yang terkorosi mungkin memerlukan perbaikan yang mahal biayanya. Hal ini dapat diatasi dengan teknik sacrificial anode, yaitu dengan cara menanamkan logam magnesium kemudian dihubungkan ke pipa besi melalui sebuah kawat. Logam magnesium itu akan berkarat, sedangkan besi tidak karena magnesium merupakan logam yang aktif (lebih mudah berkarat).
KOROSIF II
Perbedaan Karat Dengan Korosi
Karat (rust) tentu saja adalah sebutan yang belakangan ini hanya dikhususkan bagi korosi pada besi, sedangkan korosi adalah gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam. Walaupun besi bukan logam pertama yang dimanfaatkan oleh manusia, tidak perlu diingkari bahwa logam itu paling banyak digunakan, dan karena itu yang paling awal menimbulkan masalah korosi serius. Karena itu tidak mengherankan bila istilah korosi dan karat hampir dianggap sinonim.Karat pada dasarnya adalah sebuah proses kimia elektronik pada bahan metal. Faktor-faktor yang memicu terjadinya karat adalah air dan elektron bebas, karena itu karat sering disebut sebagai pertemuan antara besi atau baja dengan air dan elektron bebas. Tanpa salah satu faktor tersebut, karat tidak akan timbul. Proses terjadinya karat akan dipercepat dengan keberadaan garam.
Terjadinya karat diawali dengan terkelupasnya cat karena percikan kerikil atau batu. Dengan adanya kontak permukaan logam ke udara terbuka yang tidak terdeteksi, karat akan timbul pada area tersebut.
Karat mungkin timbul pada sambungan rangka kendaraan yang retak ataupun pada bagian bodi kendaraan yang lapisan antikaratnya sudah mengelupas. Kendaraan yang kesehariannya dekat dengan pabrik juga berisiko terkena karat. Alasannya, karat terjadi melalui pertukaran elektron.
Berikut adalah beberapa perbedaan korosi dan karat diantaranya:
·
Berkarat
adalah jenis korosi.
·
Ketika besi
atau bahan yang mengandung zat besi menjalani korosi, itu dikenal sebagai
karat.
·
Berkarat
menghasilkan serangkaian oksida besi, sedangkan korosi dapat menghasilkan garam
atau oksida logam.
Untuk mengatasinya yaitu dengan
mencegah terjadinya pertukaran elektron pada metal kendaraan. Berbagai
teknologi dikembangkan untuk mencegah terjadinya karat. Untuk kendaraan baru,
umumnya pabrikan sudah memberikan antikarat.Selain itu, material yang digunakan untuk kendaraan juga sudah mengalami proses tertentu agar lebih tahan terhadap terjadinya karat. “Semua produk baru sudah disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia, termasuk pertimbangan masalah cuaca kemarau dan hujan,
Korosi Sebagai Reaksi Kimia Dan Elektrokimia
Korosi atau secara awam lebih dikenal dengan istilah pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan-bahan logam di berbagai macam kondisi lingkungan. Penyelidikan tentang sistim elektrokimia telah banyak membantu menjelaskan mengenai korosi ini, yaitu reaksi kimia antara logam dengan zat-zat yang ada di sekitarnya atau dengan partikel-partikel lain yang ada di dalam matrik logam itu sendiri. Jadi dilihat dari sudut pandang kimia, korosi pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen.Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari material. Contohnya, logam besi di alam bebas dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.
Biasanya proses korosi logam berlangsung secara elektrokimia yang terjadi secara simultan pada daerah anoda dan katoda yang membentuk rangkaian arus listrik tertutup.
1.4. Reaksi Katodik dan Anodik
Reaksi anoda adalah reaksi utama untuk korosi. Akan tetapi, berbagai reaksi katoda harus mendapatkan perhatian khusus karena reaksi yang menyerap elektron (katodik) selalu serentak dengan reaksi korosi anodik (menghasilkan elektron).
Reaksi katodik utama adalah :
Pelapisan elektro : Mn+ + ne- → M
Generasi hidrogen : 2H+ + 2e- → H2↑
Dekomposisi air : 2 H2O + 2e- → H2↑ + 2(OH)-
Pembentukan hidrorksil : O2 + 2H2O + 4e- → 4(OH)-
Pembentukan air : O2 + 4 H+ + 4e- → 2H2O
Setiap Reaksi Menyerap Elektron.
Reaksi yang paling dominan tergantung pada variabel lingkungan elektrolit, seperti suhu dan kosentrasi. Tentu saja agar reaksi pertama dapat berlangsung harus ada ion logam.Selain itu, bila kosentrasi ion logam meningkat, ion-ion tersebut akan menggunakan lebih banyak elektron daripada katoda. Hal ini akan penting bila kita membahas akan membahas sel kosentrasi. Reaksi 5, memerlukan kehadiran oksigen dan ⍴H yang rendah (atau larutan asam). Reaksi 4 akan meningkat dalam lingkungan alkali atau netral bila ada oksigen. Reaksi ini penting bagi kita ketika membahas sel oksidasi. Reaksi 3 dijumpai dalam lingkungan tanpa udara, khususnya bila ada belerang atau bahan lainnya yang bereaksi dengan hidrogen.
Pembentukan hidroksil pada katoda. Laju reaksi 4 meningkat dengan bertambahnya kadar oksigen. Reaksi ini terjadi pada katoda, dimana elektron terpakai. Bila elektron diambil dari elektroda ini, dengan menggunakan arus searah yang terbalik, pers 4 akan terbalik dan O2 dilepaskan.
Bagian-bagian pipa dari instalasi air warsaw, setelah 5 tahun penghisapan.
Sebelah kiri diambil dari sistem pengisisan air panas, sebelah kanan pusat sistem Pemanasan :
1. Perlindungan pipa dengan sistem perlindungan korosi lemat.
2. Penyaluran air lewat pipa tanpa perlidungan kororsi.
Aspek Reaksi Elektrokimia
Reaksi korosi elektrokimia alami dari proses korosi dapat digambarkan dengan memberikan larutan asam kuat pada seng. Ketika seng telah dimasuki oleh larutan asam kuat, sebuah reaksi yang sangat kuat terjadi ; gas hidrogen bertambah dan elemen seng berkurang.Reaksinya adalah sebagai berikut :
Zn + 2HCl → ZnCl2 + H2
Dengan mengecualikan ion klorida pada reaksi diatas, maka persamaan reaksinya dapat ditulis menjadi :
Zn + 2H+ → Zn2+ + H2
Jadi seng hanya bereaksi dengan ion hidrogen dari larutan asam kuat untuk membentuk ion seng dan gas hidrogen. Berdasarkan persamaan diatas, maka dapat dilihat selama reaksi terjadi, seng teroksidasi menjadi ion seng dan ion hidrogen tereduksi menjadi gas hidrogen. Dari persamaan di atas dapat kita membaginya menjadi dua buah reaksi, yaitu reaksi oksidasi seng dan reaksi reduksi ion hidrogen.
– Oksidasi (reaksi anoda) : Zn → Zn2 + 2e
– Pengurangan (reaksi katodik) : 2H+ + 2e → H2
Proses korosi seng terhadap larutan asam kuat adalah sebagai proses elektrokimia. Dalam hal ini, reaksi terbagi menjadi dua bagian yaitu reaksi oksidasi sebagai proses elektrokimia. Dengan membagi proses korosi atau proses elektrokimia lainnya menjadi dua bagian reaksi, sehingga lebih mudah untuk memahaminya. Besi dan alumunium, sama seperti seng pada umumnya.
Selama korosi, bisa terjadi lebih dari satu reaksi oksidasi dan reduksi. Ketika suatu campuran logam berkarat, bagian-bagian logamnya terpisah menjadi ion respektif campuran logam tersebut. Dalam hal ini, lebih dari satu reaksi reduksi yang terjadi selama korosi. Berdasarkan proses korosi elemen seng yang dimasuki zat asam, menghasilkan dua reaksi katoda : oksidasi hydrogen dan reduksi oksigen. Seperti yang terdapat pada gambar berikut.
Pada permukaan seng terjadi reaksi penyerapan dua buah elektron. Perbandingan dari proses oksidasi dan reduksi harus seimbang, meningkatkan jumlah rata-rata reduksi menyebabkan bertambahnya jumlah ion-ion seng. Namun apabila larutan asam terdiri dari pengurangan oksigen akan menyebabkan korosi daripada asam udara. Reduksi oksigen lebih mudah kita pahami sebagai “electron disposal”. Pengaruh yang sama juga dihasilkan jika pengoksidasi diberikan terhadap larutan asam. Zat yang paling utama yang dihasilkan oleh larutan asam yang teroksidasi adalah ion besi, yang sekarang disebut sebagai besi klorida. Logam yang berkarat biasanya terlalu banyak dimasuki zat asam karena didalamnya terdapat dua reaksi katoda, bertambahnya hidrogen dan pengurangan ion besi. Fe3+ + e → Fe2-
Penyebab Korosif
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat memeprcepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif. Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri.
Pada suhu dan tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara. Ammoniak dalam kegiatan industri umumnya digunakan untuk sintesa bahan organik, sebagai bahan anti beku di dalam alat pendingin, juga sebagai bahan untuk pembuatan pupuk. Bejana-bejana penyimpan ammoniak harus selalu diperiksa untuk mencegah terjadinya kebocoran dan pelepasan bahan ini ke udara.
Embun pagi saat ini umumnya mengandung aneka partikel aerosol, debu serta gas-gas asam seperti NOx dan SOx. Dalam batubara terdapat belerang atau sulfur (S) yang apabila dibakar berubah menjadi oksida belerang. Masalah utama berkaitan dengan peningkatan penggunaan batubara adalah dilepaskannya gas-gas polutan seperti oksida nitrogen (NOx) dan oksida belerang (SOx). Walaupun sebagian besar pusat tenaga listrik batubara telah menggunakan alat pembersih endapan (presipitator) untuk membersihkan partikel-partikel kecil dari asap batubara, namun NOx dan SOx yang merupakan senyawa gas dengan bebasnya naik melewati cerobong dan terlepas ke udara bebas.
Di dalam udara, kedua gas tersebut dapat berubah menjadi asam nitrat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). Oleh sebab itu, udara menjadi terlalu asam dan bersifat korosif dengan terlarutnya gas-gas asam tersebut di dalam udara. Udara yang asam ini tentu dapat berinteraksi dengan apa saja, termasuk komponen-komponen renik di dalam peralatan elektronik. Jika hal itu terjadi, maka proses korosi tidak dapat dihindari lagi.
Korosi yang menyerang piranti maupun komponen-komponen elektronika dapat mengakibatan kerusakan bahkan kecelakaan. Karena korosi ini maka sifat elektrik komponen-komponen elektronika dalam komputer, televisi, video, kalkulator, jam digital dan sebagainya menjadi rusak. Korosi dapat menyebabkan terbentuknya lapisan non-konduktor pada komponen elektronik. Oleh sebab itu, dalam lingkungan dengan tingkat pencemaran tinggi, aneka barang mulai dari komponen elektronika renik sampai jembatan baja semakin mudah rusak, bahkan hancur karena korosi. Dalam beberapa kasus, hubungan pendek yang terjadi pada peralatan elektronik dapat menyebabkan terjadinya kebakaran yang menimbulkan kerugian bukan hanya dalam bentuk kehilangan atau kerusakan materi, tetapi juga korban nyawa.
1.7. Perlindungan dengan menggunakan Inhibitor
Inhibitor korosi sendiri didefinisikan sebagai suatu zat yang apabila ditambahkan dalam jumlah sedikit ke dalam lingkungan akan menurunkan serangan korosi lingkungan terhadap logam. Umumnya inhibitor korosi berasal dari senyawa-senyawa organik dan anorganik yang mengandung gugus-gugus yang memiliki pasangan elektron bebas, seperti nitrit, kromat, fospat, urea, fenilalanin, imidazolin, dan senyawa-senyawa amina. Namun demikian, pada kenyataannya bahwa bahan kimia sintesis ini merupakan bahan kimia yang berbahaya, harganya lumayan mahal, dan tidak ramah lingkungan, maka sering industri-industri kecil dan menengah jarang menggunakan inhibitor pada sistem pendingin, sistem pemipaan, dan sistem pengolahan air produksi mereka, untuk melindungi besi/baja dari serangan korosi. Untuk itu penggunaan inhibitor yang aman, mudah didapatkan, bersifat biodegradable, biaya murah, dan ramah lingkungan sangatlah diperlukan.
1.8. Bahan alam sebagai alternatif inhibitor
sebagai inhibitor korosi tidak terlepas dari kandungan nitrogen yang terdapat dalam senyawaan kimianya seperti daun tembakau yang mengandung senyawa-senyawa kimia antara lain nikotin, hidrazin, alanin, quinolin, anilin, piridin, amina, dan lain-lain (Reynolds, 1994). Lidah buaya mengandung aloin, aloenin, aloesin dan asam amino. Daun pepaya mengandung N-asetil-glukosaminida, benzil isotiosianat, asam amino (Andrade et al., 1943). Sedangkan daun teh dan kopi banyak mengandung senyawa kafein dimana kafein dari daun teh lebih banyak dibandingkan kopi.
1.9. Mekanisme proteksi
Mekanisme proteksi ekstrak bahan alam terhadap besi/baja dari serangan korosi diperkirakan hampir sama dengan mekanisme proteksi oleh inhibitor organik. Reaksi yang terjadi antara logam Fe2+ dengan medium korosif seperti CO2 diperkirakan menghasilkan FeCO3, oksidasi lanjutan menghasilkan Fe2(CO3)3 dan reaksi antara Fe2+ dengan inhibitor ekstrak bahan alam menghasilkan senyawa kompleks.
Inhibitor ekstrak bahan alam yang mengandung nitrogen mendonorkan sepasang elektronnya pada permukaan logam mild steel ketika ion Fe2+ terdifusi ke dalam larutan elektrolit, reaksinya adalah Fe -> Fe2+ + 2e- (melepaskan elektron) dan Fe2+ + 2e- -> Fe (menerima elektron).
Produk yang terbentuk di atas mempunyai kestabilan yang tinggi dibanding dengan Fe saja, sehingga sampel besi/baja yang diberikan inhibitor ekstrak bahan alam akan lebih tahan (ter-proteksi) terhadap korosi.
KOROSIF III
Klasifikasi Bahan Kimia - Bahan Kimia Korosif ( Corrosive )
sumber gambar: http://hr-interanekalestarikimia.blogspot.com/2012/09/sharing-knowledge-petugas-k3-kimia.htmlKlasifikasi Bahan Kimia dibagi menjadi 9 yaitu Toxic, Corrosive, Flammable, Explosive, Oxidation, Reaktif terhadap Asam, Reaktif terhadap Air, Gas Bertekanan, Radioktive. Sekarang saya akan menjelaskan tentang bahan kimia Korosif ( Corrosive)
Corrosive
sumber gambar : http://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&docid=sRb7ir46JA3RqM&tbnid=Mj33zijrVP245M:&ved=0CAcQjB0wADgT&url=http%3A%2F%2Fid.wikipedia.org%2Fwiki%2FKorosif&ei=tQ3cUZDmPMr_rAenr4C4Ag&psig=AFQjCNELsA3FkYOtddkZB6FuWZFx83STfg&ust=1373462326125086
Bahan kimia korosif merupakan bahan kimia yang karena reaksi kimia dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh. Zat korosif dapat bereaksi dengan jaringan seperti kulit, mata, saluran pernapasan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh zat korosif misalnya luka, peradangan, iritasi , dan sinsitasi ( jaringan amat peka terhadap bahan kimia). Beberapa bahan kimia korosif dapat menguap dan beberapa lainnya bereaksi hebat dengan uap air.
Penyimpanan Bahan Kimia Korosif
Harus disimpan diruangan yang sejuk dan ada peredaran hawa yang cukup untuk mencegah terjadinya pengumpulan uap. Kemasan dari bahan ini harus tertutup(mencegah penguapan) dan terpasang label ( agar dapat diketahui bahwa itu korosif, sehingga orang menjadi hati - hati). Semua logam yang berada didekatnya harus dicat ( mencegah kerusakan pada logam karena sifatnya yang korosif ) , tempat harus terpisah dengan yang lain (dinding dan lantai tahan korosi) , bangunan memilki saluran pembuangan untuk tumpahan, memiliki ventilasi ruangan yang baik, memiliki saluaran air untuk pertolongan pertama yang terkena bahan ini.
Contoh Bahan Korosif:
- Asam Asetat
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka[10] adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3–COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat pekat (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16,7°C. Asam asetat adalah komponen utama cuka (3–9%) selain air. Asam asetat berasa asam dan berbau menyengat. Selain diproduksi untuk cuka konsumsi rumah tangga, asam asetat juga diproduksi sebagai prekursor untuk senyawa lain seperti polivinil asetat dan selulosa asetat. Meskipun digolongkan sebagai asam lemah, asam asetat pekat bersifat korosif dan dapat menyerang kulit.
- Asam Klorida
Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif.
- Asam Nitrat
asam nitrat (HNO3) adalah sejenis cairan korosif yang tak berwarna, dan merupakan asam beracun yang dapat menyebabkan luka bakar. Larutan asam nitrat dengan kandungan asam nitrat lebih dari 86% disebut sebagai asam nitrat berasap, dan dapat dibagi menjadi dua jenis asam, yaitu asam nitrat berasap putih dan asam nitrat berasap merah.
- Asam Sulfat
H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri kimia. Produksi dunia asam sulfat pada tahun 2001 adalah 165 juta ton, dengan nilai perdagangan seharga US$8 juta. Kegunaan utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak.
- Asam Sitrat
Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan genus Citrus. Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan.
- Fenol
Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C₆H₅OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil yang berikatan dengan cincin fenil.
- Kalium Hidroksida
Kalium hidroksida adalah suatu senyawa anorganik dengan rumus kimia KOH, dan umumnya disebut sebagai potash kaustik. Bersama dengan natrium hidroksida, padatan tak berwarna ini adalah suatu basa kuat.
- Natrium Hidroksida
Natrium hidroksida, juga dikenal sebagai soda kaustik, soda api, atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air.
- Amonium Hidroksida
Amonium hidroksida, dikenal pula sebagai larutan amonia, air amonia, larutan amoniakal, amonia encer, akua amonia, amonia berair, atau secara sederhana hanya disebut sebagai amonia, adalah larutan amonia dalam air. Senyawa ini disimbolkan sebagai NH₃
KOROSIF IV
korosif merupakan salah satu
bahan yang dapat merusak dan mengakibatkan cacat permanen pada jaringan yang
terkena bahan korosif.
Bersentuhannya kulit dengan bahan-bahan korosif
umumnya disadari sehingga kurang begitu berbahaya bila dibandingkan dengan
racun yang terisap. Banyak bahan yang tidak korosif tetapi menimbulkan iritasi
pada kulit dan dapat menyebabkan peradangan. Bahan tersebut misalnya senyawa
alkali sabun dan bahan-bahan higroskopik.
Bahan-bahan korosif umumnya berupa cairan yang
tidak dapat terbakar, tetapi sering menimbulkan panas dan nyala jika terkena
udara atau uap air atau jika bersentuhan dengan bahan yang mudah terbakar.
Contoh
bahan-bahan korosif adalah:
Asam Nitrat, Asam Sulfat, Asam Klorida, Natrium
Hidroksida, Asam Asetat, Anhidrida Asetat, Metanol, Perchlorat, Ammonia,
Bromin, Fluorin, Hidrogen Iodida, Phenol,karbondioksida padat, Asam Format,
Hidrogen Peroksida, Fosfor Merah dan Fosfor kuning, Logam Kalium, Kalium
Hidroksida, Perak Nitrat dan Logam Natrium.
Hal-hal
yang perlu dilakukan untuk pengamanannya adalah:
Simpan bahan di tempat yang sesuai (cocok) dan
lakukan pengontrolan atau pengawasan secara teratur.
Ikuti aturan-aturan penyimpanan, pemberian label,
pemakaian dan pembuangannya.
Simpan persediaan di laboratorium dalam jumlah
minimum.
Gunakan selalu pelindung atau sarung tangan, jas
lab dan kaca mata.
Hindarkan jangan sampai tumpah dan jika bersentuhan
dengan kulit, cucilah segera denagan air dan sabun.
Jangan menggunakan pelarut untuk membersihkan kulit
yang terkena bahan korosif atau bahan penyebab iritasi, sebab pelarut akan
mempercepat penyerapan (absorpsi) senyawa-senyawa tersebut sehingga lebih
membahayakan.
Untuk setiap bahan kimia yang tidak dapat dicuci
dengan air gunakan emulsi pembersih kemudian basuh dengan sabun dan air.
Contoh
bahan korosif yang berwujud cair:
Asam mineral
asam nitrat, asam klorida, asam sulfat, asam
fosfat, asam florida
Asam organik
asam formiat, asam asetat, asam
monokloro asetat
petroleum, hidrokarbon tetraklorinasi,
karbondisulfida, terpentin
Bahan
Korosif Padat
Sifat
korosif
dan panas yang ditimbulkan akibat proses pelarutan
adalah penyebab iritasi yang sangat tergantung pada kelarutan zat pada kulit
yang lembab.
Contoh
zat korosif yang berwujud padat adalah :
Basa
NaOH, KOH, Natrium silikat, asam karbonat,
CaO, CaC2,Ca(CN)2
Asam trikloroasetat
Lain-lain:
fenol, natrium, kalsium, fosfat, perak,
nitrat
Bahan Korosif Gas
Bentuk
gas paling berbahaya dibandingkan dengan
bahan padat atau cair, karena bahan gas akan menyerang saluran pernapasan yang
ditentukan oleh kelarutan gas dalam permukaan saluran yang lembab atau
berlendir. Jenis iritan dapat digolongkan pada kecilnya kelarutan yang juga
menetukan daerah serangan pada alat pernapasan
sebagai berikut:
Kelarutan tinggi, dengan daerah serangan pada
bagian atas saluran pernapasan:
amoniak, HCl, HF, formaldehid, asam asetat, sulfur
klorida, tionil klorida, sulfuril
klorida
Kelarutan sedang, efek pada saluran pernapasan bagian
atas dan lebih dalam (bronchin) :
belerang oksida, klorin, arsen tri klorida,
fosforpentaklorida dan lain-lain,
efek iritasi oleh mekanisme bukan pelarutan:
akrolein, dikloroetil sulfida,dikloro metil eter,
dimetil sulfat, kloro pikrin
CARA
MENGGUNAKAN
1) Bahan tidak boleh dipanaskan langsung. Gunakan
penangas uap atau
penangas air.
2) Di laboratorium, sediakan dalam jumlah yang
minimum. Pelarut yang tidak
digunakan lagi dikembalikan ke botol pelarut.
3) Sediakan alat pemadam kebakaran. Bila terjadi kebakaran
dengan api kecil
gunakan kain basal atau pasir, tapi bila api besar
gunakan alat pemadam.
4) Jangan membuang cairan yang mudah terbakar ke
dalam bak cuci.
5) Pada saat memanaskan jangan mengisi gelas kimia
dengan cairan mudah
terbakar melebihi ½ kapasitasnya. Gunakan batu
didih guna menghindarkan
ledakan/letupan.
6) Botol penyimpanan bahan mudah terbakar jangan
diisi sampai penuh,
sediakan 1/8 isinya untuk udara. Gunakan botol yang
tidak mudah terbakar dan
jauhkan dan sumber perapian.
7) Kontrol semua bahan secara periodik.
8) Menggunakan pelindung diri.
9) Memasang detektor kebocoran gas.
10) Cairan yang mudah terbakar hanya boleh
dikeluarkan dengan bantuan gasinert
CARA
MENYIMPAN
1) Bahan padat mudah terbakar disimpan di tempat
sejuk, dijauhkan dari sumber
panas, bahan lembab dan air, bahan pengoksidasi
atau asam.
2) Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat
dengan bahan pengoksidasi
atau bahan korosif.
3) Tempat penyimpanan harus cukup sejuk, dengan
tujuan mencegah nyala jika
uapnya tercampur udara.
4) Daerah penyimpanan harus terletak jauh dari
sumber panas dan terhindar
dari bahaya kebakaran.
5) Bahan padat mudah terbakar disimpan di tempat
sejuk, dijauhkan dari
sumber panas, bahan lembab dan air, bahan
pengoksidasi atau asam.
6) Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat
dengan bahan pengoksidasi
atau bahan korosif.
7) Tempat penyimpanan harus cukup sejuk, dengan
tujuan mencegah nyala jika
uapnya tercampur udara.
8) Daerah penyimpanan harus terletak jauh dari
sumber panas dan terhindar
dari bahaya kebakaran.
9) Tempat penyimpanan harus terpisah dari bahan
oksidator kuat, bahan yang
mudah menjadi panas dengan sendirinya, atau bahan
yang bereaksi dengan
udara atau uap air yang lambat laun menjadi panas.
10) Di tempat penyimpanan tersedia alat-alat
pemadam api dan mudah dijangkau.
11) Menyingkirkan semua sumber api dari tempat
penyimpanan.
12) Pada daerah penyimpanan dipasang sambungan
tanah/arde serta dilengkapi alat deteksi asap atau api otomatis dan diperiksa
secara periodik.
13) Di daerah penyimpanan dipasang tanda dilarang
merokok.
14) Fosfor kuning akan terbakar bila berhubungan
dengan udara. Simpan dalamair dan kontrol selalu permukaan airnya karena
permukaan air akan menurun akibat penguapan.
15) Logam K dan Na akan terbakar jika kontak dengan
air, simpan didalam minyak parafin.
EFEK
1. Kebakaran
2. Ledakan
3. Keracunan Gas
CARA
MENGATASI
a) Menghilangkan bahan yang dapat terbakar.
b) Membuang panas.
c) Mencegah masuknya oksigen ke dalam bahan yang terbakar.
d)Jika apinya kecil, maka lakukan pemadaman dengan
Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
e) Mematikan sumber listrik.
f) Melokalisasi api agar tidak merembet.
g) Menghubungi PBK (Pertolongan Bahaya Kebakaran)
jika api membesar.
h) Bersikap tenang dalam menangani kebakaran, dan
jangan mengambil tidakan
yang membahayakan diri sendiri maupun
orang lain.
i) Membawa korban keracunan gas ke tempat terbuka,
dan segera dibawa ke ruah sakit.
j) Bila terjadi kebakaran logam Alumunium,
Magnesium, dan Zink (seng) dalam keadaan murni, jangan gunakan pemadam
berisi air tetapi gunakanlah serbuk pemadam.
https://hitamdanorange.wordpress.com/2012/12/22/corrosive-substances-zat-korosif/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar